Kedobolan 4.0

Saya pernah belajar di daerah tambang minyak di Bojonegoro. Saya pernah belajar di masyarakat yang hidup di kawasan industri di Cilacap. Saya pernah belajar di Pulau Padang. Saya pernah belajar di sebuah desa dekat Danau Toba. Saya pernah belajar di desa di Kalimantan Barat. Saya pernah belajar di desa pegunungan di Papua Barat. Saya pernah belajar di desa Trans di Sumatera Selatan. Saya pernah belajar di hilir Sungai Kahayan di Kalimantan Tengah. Saya belajar dari SD sampai sekarang S3. Dan semakin saya belajar, semakin banyak yang belum saya ketahui. Tapi juga sekaligus, semakin saya belajar, kian sering pameran kedobolan akhir-akhir ini muncul ke permukaan. Kedobolan, meski bukan istilah yang tepat untuk meringkas upaya-upaya normalisasi abnormalitas tatanan sosial yang berlangsung terus-menerus, namun ia mewakili kerangka kerja mental yang hidup dalam tempurung besi, tumbuh dalam tempurung, bermukim dalam tempurung, dan mati dalam tempurung. Setiap kali satu kedobolan berlalu, seribu kedobolan baru menyusul. Mulai dari rencana rental rektor dari luar negeri, ruu penghinaan presiden yang diglorifikasi macam dewa dan kabarnya tinggal menungu disahkan, DPR dan pin emas, rencana brilian penggantian mobil menteri yang uangnya lebih berguna bila dialokasikan untuk bantuan pendidikan dan pelayanan kesehatan pada orang kurang mampu, rencana pemindahan ibukota yang pemberitaannya membuat publik seperti sedang menonton acara tebak-tebakan, peristiwa kebakaran lahan setiap kemarau panjang yang diantisipasi pemerintah dengan cara menurunkan aparat untuk meneror masyarakat tempatan melalui penangkapan terhadap aktivitas membakar ladang yang skalanya tak sebanding dengan jumlah pemberian ijin konsesi menggunduli hutan yang mengakibatkan daya dukung lingkungan terus merosot membuat kondisi lahan jadi rentan terbakar ketika kemarau panjang, pemilihan pimpinan KPK yang menuai polemik, dan yang kian telanjang: pendekatan bergaya militer dalam merespon tuntutan masyarakat Papua. Saya penasaran, virus macam apa kira-kira yang berkembangbiak dalam tempurung para paduka yang mulia hingga setiap wacana yang bergulir darinya tidak ada bagusnya samasekali? Alih-alih bagus, malah secara terang-terangan menghina kadar intelektualitas publik dengan menurunkan standar ideal kualitas para elit. Bahwa untuk menjadi elit yang bisa punya akses untuk menjalankan negara, kedalaman berpikir dan ketepatan bertindak adalah nomor paling belakang karena sudah dengan sendirinya teratasi melalui kehadiran para staf ahli. Lantas jika demikian, apa nilai lebih dari pemimpin? Apakah iklan? Apakah identitas? Suara terbanyak? Mitos? Uang? Jaringan? Saya juga jadi penasaran dengan siapa yang punya ide brilian menambah jumlah pasukan berseragam di Papua sementara di saat yang sama perhatian media arus utama justru tertuju pada rencana pemindahan ibukota? Siapa yang punya ide mematikan jaringan informasi hingga berhari-hari yang bukan saja seperti menyiram minyak ke kobaran api, tapi juga menambah kejengkelan karena seenaknya menutup hak publik atas informasi? Apa gunanya anggaran pertahanan mendapat bagian paling besar melebihi anggaran pendidikan dan kesehatan tetapi cara menangani konflik masih berada dalam tempurung era perang dingin? Benar-benar 4.0 yang sempurna. Bukan. Bukan 4.0, tapi 0,4.

Iklan