Sungai dan Puisi

Pagi hari, matahari datang dari pinggir sungai besar. Sepasang suami istri, kira2 berusia tiga perempat abad, duduk di beranda, menghisap kretek dan kesunyian, seperti hendak menghisap tepian sungai yang berubah demikian cepat.

tatapannya, menerawang,

jauh, tak terbaca.

(Kalimantan, Februari 2019)

img_5908.jpg

Membaca kembali catatan pribadi yang mungkin terkesan personal dan terjerumus dalam romantisme saat melihat kenyataan sosial di atas, saya lantas teringat akan cerita Sungai Nil pada masa lalu, yang ditulis Yuval Noah Harari (2018) dalam “21 Adab untuk Abad 21”. Ia menulis;

“..di sepanjang Sungai Nil ribuan tahun yang lalu. Bagi mereka, sungai adalah sumber kehidupan. Sungai mengairi ladang mereka dan mengangkut barang dagangan mereka. Tapi sungai adalah sekutu yang tidak bisa diprediksi. Terlalu sedikit hujan – orang-orang mati kelaparan; terlalu banyak hujan – sungai meluap dan menghancurkan seluruh desa. Tidak ada suku yang bisa menyelesaikan masalah ini sendiri-sendiri, karena setiap suku hanya menguasai bagian kecil dari sungai dan hanya bisa memobilisasi tidak lebih dari beberapa ratus buruh. Hanya dengan upaya bersama untuk membangun bendungan besar dan menggali ratusan kilometer kanal yang bisa diharapkan untuk menahan dan memanfaatkan sungai yang besar. Ini adalah salah satu alasan mengapa suku-suku itu berangsur-angsur menyatu menjadi satu bangsa yang memiliki kekuatan untuk membangun bendungan dan kanal, mengatur aliran sungai, menyiapkan cadangan biji-bijian selama tahun-tahun kemarau, dan membangun sistem transportasi dan komunikasi di seluruh negeri (Harari, 2018: 120).”

Membaca penjelasan pendek tersebut, lalu kembali menatap monitor, membacai tulisan sendiri yang sedang dalam proses reparasi, rasa-rasanya memang banyak sekali yang mesti direnovasi. *duh!

 

 

 

 

Iklan