Membaca Buku “Lingkungan Hidup dan Kapitalisme”

Setiap hendak mengawali satu catatan tentang ulasan buku yang selesai saya baca, saya selalu merasa canggung akan memulainya darimana. Meski rupanya hal itu juga tak menghentikan kebiasaan saya untuk membuat catatan tentang buku yang menurut saya menarik untuk dicatat. Termasuk buku terjemahan yang diterbitkan oleh Marjinkiri awal Agustus 2018 lalu. Buku yang aslinya berjudul “What Every Environmentalist Needs to Know About Capitalism: A Citizen’s Guide to Capitalism and the Environment” yang sebelumnya telah terbit pada tahun 2011, dan mulanya adalah hasil kembangan dari artikel yang terbit di Monthly Review ini ditulis oleh dua orang; Fredd Magdoff, ahli ekologi dari Kampus Vermont dan John Bellamy Foster, sosiolog dari Kampus Oregon.

Kecanggungan saya setiap hendak mengulas tentang buku yang baru saya baca ini sebenarnya berangkat dari diri sendiri dalam membayangkan sebuah hasil pemikiran yang utuh dalam bentuk buku. Sebab setiap buku semacam ini, terhimpun gagasan yang kompleks, sehingga tentu saja tidak mudah menulis hasil pembacaan secara keseluruhan – kalau bukan malah justru mereduksi ide-ide dalam buku tersebut.

Sebagai buku yang mengulas tentang kajian politik ekologi, tulisan Magdoff dan Foster boleh dikata merupakan jenis buku pengantar. Dan memang di bagian sampul buku terjemahannya, tertulis kata “Sebuah Pengantar”. Sebagai buku pengantar, membaca “Lingkungan Hidup dan Kapitalisme” (selanjutnya disingkat ‘LHK’) tidak hanya mengenalkan saya pada wilayah kajian yang selama ini ‘luput’ saya pelajari, tetapi juga mengantarkan saya melakukan studi lebih lanjut tentang kondisi politik ekologi di Indonesia. LHK menyajikan konteks untuk memahami isu-isu terkini tentang lingkungan dan bagaimana cara membaca fenomena tersebut.

***

Buku itu dibuka dengan menyadur gagasan Herman Daly, seorang ekonom yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan pernah menuangkan pemikirannya dalam buku “Steady-state Economics” di tahun 70’an. Beberapa bulan sebelum memegang buku LHK, sebenarnya saya juga sempat memperoleh referensi bacaan tentang pemikiran Herman Daly ketika suatu kali mendengarkan diskusi tentang hutan di Indonesia. Salah satu yang terkenal dari Daly adalah tentang teorema ketidakmungkinan. Yang kurang lebih berbunyi, bahwa perekonomian di suatu wilayah yang terbatas tidak akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas. Teorema itu tentunya dapat diperdebatkan dengan membenturkannya pada studi-studi empiris.

Kebetulan juga selama dua tahun belakangan saya mendapat kesempatan belajar tentang antropologi dan ekologi. Pengalaman melakukan belajar di Pulau Padang pada awal tahun 2017, sedikit-banyak turut membentuk alur perhatian saya ke ranah lingkungan. Dasar ilmu yang saya tekuni adalah antropologi, yang menitikberatkan pada studi-studi tentang manusia – yang kadang cenderung antroposenstris dalam melihat dan menimbang isu-isu mengenai lingkungan – membuat saya meski terbiasa membaca kajian terkait persoalan lingkungan, akan tetapi ternyata tidak juga mampu membuat saya dapat memahami dengan baik pengetahuan tentang lingkungan. Bahasa atau istilah-istilahnya yang selalu terasa asing di telinga saya, seperti tingkat kelembaban, geomorfologi dan segala macam lainnya, membuat saya penasaran dan berusaha mencari celah atau mungkin semacam “jembatan keledai” untuk dapat memahami konteks ekologi yang bagi saya demikian kompleks. Dalam fase belajar seperti itulah saya bertemu dengan buku LHK.

 Bermula dari membaca sinopsis buku yang sebelumnya sudah lebih dulu beredar di media sosial sebelum bukunya terbit, kegelisahan yang saya alami ketika belajar politik lingkungan serasa terwakili. Maka tanpa menunggu lama, ketika buku itu terbit, saya langsung mencarinya. Sinopsis yang saya maksud adalah sebagai berikut;

“Dewasa ini, kian banyak orang meyakini bahwa kemerosotan sistem daya dukung kehidupan di bumi tengah menuntun kita ke arah bencana. Baik aktivis lingkungan maupun bukan, makin banyak orang yang peduli akan lingkungan dan mengambil langkah-langkah kecil dalam hidup keseharian guna melindungi planet ini. Namun seiring semua itu, kerusakan lingkungan nyatanya juga semakin parah. Bagaimana men­jelaskan kontradiksi ini? Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, dua orang ilmuwan dan pegiat isu ekologi, menguraikan bahwa langkah-langkah yang diambil selama ini belum mengenai inti persoalan yang sebenarnya, yakni sistem ekonomi yang kita anut, sistem yang meletakkan obsesi akan pertumbuhan dan akumulasi di inti semua aktivitasnya. Banyak orang masih meyakini bahwa kapitalisme bisa direformasi untuk menjadi “ramah lingkungan”, bahwa kapitalisme tetap akan menawarkan jalan keluar dari krisis lingkungan. Di sinilah masalah yang sebenarnya. Telah tiba waktunya bagi semua pihak yang peduli akan nasib bumi untuk menghadapi kenyataan: hubungan mendasar antara manusia dan bumi harus diubah. Dengan kata lain: penting untuk memutus diri dari sistem yang didasari oleh motif akumulasi kapital terus-menerus (dalam wujud pertumbuhan ekonomi tanpa akhir). Pemutusan ini merupakan kondisi yang perlu bagi terciptanya peradaban ekologi baru.”

Setelah mendapatkan LHK di toko buku langganan di belakang Malioboro Yogyakarta, saya langsung meluangkan waktu untuk menuntaskan membaca buku itu. Butuh sekitar tiga minggu untuk memenuhi buku itu dengan coretan stabilo di sana-sini. Menurut saya, buku ini memiliki satu benang merah yang sama dengan tulisan Lorenzo Fioramonti, sebuah buku yang juga pernah diterbitkan oleh Marjinkiri satu tahun sebelumnya – yang sempat saya ulas dalam esai berjudul “Paradoks Easterlin dan Ekonomi Kecemasan di Indonesia”.

Saya tidak akan mendedah apa isi LHK. Alih-alih mencoba mengkritisinya, belakangan dari buku itu, saya justru terbayang dengan dinamika perubahan sosial yang dipicu oleh ekspansi kapitalisme ekstraktif di Indonesia. Di sebuah desa di Pulau Padang, di Sumatera Utara, di Kalimantan Barat dan di Sumatera Selatan, tempat saya belajar tentang kehidupan masyarakat di sana. Saya mendengar cerita-cerita dari para orang tua yang telah mengalami banyak pergantian rezim dan perubahan kebijakan yang berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup mereka. Bagaimana ruang hidup masyarakat yang dalam pemahaman saya, kian menciut di tengah kian membesarnya daya tarik ekonomi ekstraktif yang mengancam kelangsungan lingkungan tempat tinggal mereka. Kehidupan mereka diintai oleh penurunan permukaan tanah, pencemaran air, banjir dan kebakaran lahan ketika kemarau panjang – suatu pengalaman hidup yang tak mudah ditampung oleh bahasa yang demikian terbatas, apalagi dirumuskan secara teknis dan matematis belaka.

Di Kalimantan Barat, ketika berbincang dengan salah seorang tetua adat di sebuah desa di sana, saya mendapatkan cerita tentang harga getah karet yang jatuh dan tak kunjung bangkit lagi seperti masa kejayaannya beberapa tahun silam. Hasil panen sawit warga pun juga demikian, naik-turun tidak stabil. Secara garis besar, hidup masyarakat yang bertumpu di sektor agraria ibarat telur di ujung tanduk. Benar-benar telur di ujung tanduk. Tidak hanya di empat tempat itu, melalui berita terkini, saya menyaksikan berita-berita yang menguras pikiran waras, kriminalisasi petani yang terus terjadi. Baru-baru ini, tentu kita tidak asing dengan investigasi mengejutkan yang dihasilkan dari kolaborasi para wartawan Mongabay, The Gecko Project, Tempo dan Malaysiakini tentang rencana proyek sawit di Boven Digoel Papua (lihat, Tempo edisi khusus November 2018 dan laporan The Gecko Project berjudul “Kesepakatan Rahasia Hancurkan Surga Papua” yang dirilis 30 Januari 2019, dapat diakses di laman internet).

Dalam kegetiran semacam itulah, buku LHK ini, menurut saya, mampu menawarkan satu sudut pandang radikal untuk memahami dinamika politik ekologi di Indonesia.

Iklan