Teatrikalitas Politik

“Jika buku membuatmu jenuh, kau bisa menutupnya. Jika lukisan terlalu buruk, maka kau bisa pejamkan matamu. Tapi teater yang buruk, itu seperti dokter gigi. Kau harus tetap di kursimu, tengkorak kepalamu dibor hingga seluruh prosedur mengerikannya berakhir” – Tokoh Willy, di Film Colette (2018).

Itu juga dapat berlaku untuk politik. Dalam beberapa variabel atau juga sebagai metafor, politik analog dengan teater. Ada aktor, ada sutradara, penata panggung, seksi konsumsi, tim yang mengurusi soal-soal perijinan, publikasi, penjaja karcis, jadwal lakon yang digarap, penonton, dan juga tumpukan naskah yang mesti diberi nyawa dengan kualitas penjiwaan yang tak main-main oleh masing-masing artis.

Tapi sialnya, sebagai teater, politik hari-hari ini adalah politik seperti yang dikatakan tokoh Willy. Dan meski kurang begitu enak untuk dinikmati, penonton dipaksa tetap duduk, mengikuti semua prosedur sebagai pasien yang baik, melantunkan puja-puji sambil menunggu aba-aba dari tim hore kapan waktunya untuk keplok-keplok (bertepuk tangan).

Entah mengapa itu mengingatkan saya pada judul tulisan Clifford Geertz, “Negara Teater”. Hya, hanya judulnya.. karena kalau isinya, akan lebih serupa dengan “Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga” nya George Junus Aditjondro.

Iklan