Catatan Buku Penutup Tahun 2018

Tahun sudah bersijingkat nyaris berganti (lagi), dan (lagi-lagi) saya belum juga mengawali sebuah kebiasaan yang sudah saya awali dari akhir tahun lalu dan rencananya akan menjadi rutin, yaitu meluangkan waktu melakukan pembukuan tentang buku-buku apa saja yang sudah dikonsumsi selama satu tahun belakangan. Masih seperti tahun lalu, saya membuat tulisan ini di warung kopi. Artinya, saya sedang tidak didampingi dengan buku-buku yang akan saya catat apa saja selama satu tahun belakangan di sini (halaahh alesaann!). Artinya lagi, saya ndak bisa menyebutkan satu demi satu judul buku itu secara rinci (hadeeehh..).

Terlepas dari catatan tentang buku-buku yang rencananya akan dibuat setiap akhir tahun itu, masih juga seputar buku, ngomong-ngomong dua bulan lalu, buku-buku saya mengalami nasib apes hanya gara-gara tak tinggal ke luar Jawa. Sekitar 20 lebih buku saya amblas – sebagian masih belum sempat terbaca, koyak, oleh puluhan kompi pasukan rayap yang datang menyergap diam-diam dengan strategi ala jenderal Cina kuno Sun Tzu pas kebetulan saat saya sedang tidak di TKP. Maka, ketika saya pulang dari Kalimantan pada suatu malam dan mengetahui ada tanda-tanda tidak beres terjadi pada rak saya, saya langsung iseng ambil satu buku. Alangkah terkejutnya saya ketika waktu itu menyaksikan puluhan kompi rayap pada parti menggasak kertas. Saat itu, antara pengen sambat dan misuh tapi misuh sama sapa yee kaann.. (masak sama diri sendiri) -___-

Jadi pada detik itu juga, untuk menghindari infeksi atau penularan yang tidak diinginkan, saya langsung melakukan sterilisasi total di malam hari. Dalam keadaan capek, dengan berat hati saya paksakan diri memisahkan puluhan buku yang berhasil selamat dari terjangan spesies sok yoi itu dengan buku-buku yang sudah seharusnya dibuang. Mau tidak mau, saya melakukan penghitungan atas total jumlah kerusakan aset yang diakibatkan binatang itu. Ada 20’an lebih buku menjadi korban, dan harusnya saya buang karena sudah tidak bisa lagi dibaca secara lengkap. Tapi karena ternyata benar kata orang, yang namanya move on itu tidak semudah membalik telapak tangan, apalagi jika mengingat bagaimana satu-persatu buku itu saya kumpulkan dengan mengurangi jatah njajan, akhirnya untuk sementara yang malah justru keterusan, saya hanya menaruh buku-buku rusak itu di luar dan sebagian lagi di dalam. Hanya untuk menungggu waktu yang tepat membuangnya.

Sepanjang tahun 2018, selain ditimpa oleh persoalan pelik tentang nasib apes yang dialami oleh buku-buku itu, masih seperti tahun sebelumnya, saya menambah puluhan buku di rak kamar yang kian sesak. Satu tahun ini, karena agenda riset yang lebih padat, alhasil koleksi buku-buku baru yang saya comot topikya tak sebebas tahun lalu. Ada semacam pendisiplinan jenis bacaan secara tak langsung. Meski, hya, ada beberapa buku berkategori sastra yang masih sempat saya embat. Sebagian besar buku yang jadi pendatang baru di tempat saya lebih banyak yang menyangkut dengan topik riset yang sedang kerjaan. Tentu saja saya tidak akan mendaftarnya di sini satu-persatu karena hyaitu tadi, saya menulis ini di warkop, jadi tidak bisa ngecek langsung buku apa aja yang berstatus sebagai pendatang baru itu. Secara garis besar, yang paling banyak dari pendatang baru itu adalah buku yang berkaitan dengan etnografi Kalimantan, ada 20’an lebih buku tentang Kalimantan campur-aduk dengan buku fotokopian (karena suatu hal, yakni tidak semua buku tersebut bisa dijumpai di pertokoan buku alias tidak dipublikasikan, karenanya saya harus menduplikasinya – misalnya seperti buku laporan-laporan riset dari tahun baheula) dan buku asli, yang saya bawa pulang dari pulau itu sewaktu riset di sana pada bulan November 2018.

Selain 30’an buku yang bertema sangat spesifik itu, ada juga buku-buku bertema bebas seperti kumpulan tulisan berjudul “Melawan tanpa Kebencian” yang disunting oleh Pak Mustofa Bisri, bercerita tentang rekam jejak Arief Budiman (kakaknya Soe Hok Gie) yang ditulis oleh kawan-kawannya. Kenapa buku ini perlu untuk saya sebutkan di sini, karena selain yang pertama ingat adalah hya judul buku itu, tulisan-tulisan yang ada di dalamnya sangat menarik. Dari buku itu, saya mendapat gambaran bagaimana dinamika aktivisme di tahun 70’an dan peran mahasiswa dalam konstelasi sosial-politik di kala itu. Bagaimana nama-nama orang yang dulunya sangat dikenal di jamannya, kini sudah nyaris tak dikenali lagi di masa sekarang karena wacana sejarah hari ini tengah ditenggelamkan oleh kapitalisme media dalam kubangan politik bataviasentris. Selain buku itu, saya juga memperoleh dua buku lain yang bagi saya lain daripada yang lain karena saya terima langsung dari penulis dan penyuntingnya. Kalau ndak salah ingat, judulnya “Mbongkar Jogja”. Saya mendapat buku itu dari Aprinus Salam, guru Ilmu Sastra di Fakultas Ilmu Budaya UGM dan sekaligus Kepala Pusat Studi Kebudayaan. Satunya lagi yaitu buku dari Dhanik, peneliti di Balai Pelestarian Nilai Budaya dan Sejarah Kalimantan. Kebetulan dia baru saja menerbitkan sebuah buku dengan topik riset yang beririsan dengan yang sedang saya kerjakan. Kalau ndak salah inget (lagi) judul buku itu “Kosmologi Sungai Orang Dayak Ngaju”. Dan merupakan satu dari puluhan buku yang saya bawa terbang dari pulau itu pada November bulan lalu.

Beberapa hari lalu, tanggal 26 Desember, saya juga mendatangkan 3 buah buku baru, sebuah buku tipis WS.Rendra yang berjudul “Tentang Bermain Drama”, “Mentalitas dan Kebudayaan Indonesia” Koentjaraningrat, dan satu lagi…apa yaa lupa eh. Selain itu, saya juga sempat membeli seri ketiga dari buku Yuval Noah Harari yang berjudul terjemahan “21 adab di abad 21” apa ya, jadi lengkap sudah koleksi saya tentang buku serial doski. Ngomong-ngomong dari buku doski itu juga dulu saya sempat membuat tulisan tentangnya (yang berjudul “revolusi agrikultur”, cekidot aja di gugel) – suatukali saya dikontak oleh salah satu lembaga mahasiswa di salah satu kampus terbesar dan tertua di Indonesia, diundang untuk menjadi moderator dari acara bedah bukunya Noah Harari. Tapi karena jadwalnya berbenturan dengan agenda penelitian yang sedang saya kerjakan, akhirnya hya ndak bisa menyanggupi undangan itu. Oya, selain tiga buku Noah Harari, laluu.. Anthony Reid yang dua jilid bukunya tentang sejarah Asia Tenggara itu, lalu buku jadul Involusi Pertanian Geertz, dan.. apalagi ya. Duh lupa. Nantilah coba kulihat lagi di kos. Daann.. itu aja sih. Bingung apalagi yang bisa ditulis untuk kaleidoskop buku di tahun ini.

Iklan