Membaca

Tidak semua kenal dengan gagasan Weber tentang ‘the vocation of science’ dan ‘the vocation of politics’, jadi tidak semua punya gambaran bahwa ada perbedaan paradigma yang sangat mendasar antara medan aktivisme yang mensyaratkan kepastian untuk mengidentifikasi siapa kawan siapa lawan, siapa benar siapa salah, dengan menara-menara gading yang dingin yang sunyi dengan tradisi keraguan yang terus dihidupi yang membuatnya dialektik mencapai sintesa-sintesa baru untuk kemudian dihancurkan lagi terus-menerus, menghindari kepastian.

Tidak semua kenal dengan pemikiran Marx, sehingga tidak semua punya gambaran bahwa realitas sosial yang setiap hari dijalani berdiri di atas pondasi dominasi dan eksploitasi.

Tidak semua membaca Foucault, sehingga tidak semua punya bayangan bahwa kekuasaan ada dimana-mana, bahwa pengaturan ada dimana-mana, dan manusia menjadi bahan gosip yang selalu saja menarik tak habis dibicarakan, dibentuk, dihitung, ditawar, dipergunjingkan, bahkan juga, dieksploitasi.

Tidak semua membaca Nietzsche, sehingga tidak semua punya gambaran tentang bagaimana moralitas budak tuan tumbuh melalui psikologi kolektif, kehendak untuk berkuasa, mentalitas gerombolan, dan hikayat pahlawan tragis.

Tidak semua membaca eksistensialisme Camus tentang Sisipus, sehingga tidak semua punya gambaran tentang betapa absurdnya hidup.

Tidak semua membaca Sartre, sehingga tidak semua mampu membayangkan liyan sebagai neraka. Sebagaimana tidak semua kenal pemikiran Levinas, sehingga tidak semua terbayang menganggap liyan sebagai bagian dari dirinya.

Tidak semua membaca Pram, sehingga tidak semua punya kesamaan tentang bayangan sejarah kolonialisme yang merasuk sampai ke tulang sumsum.

Tidak semua membaca Ahmad Tohari, atau Yasunari Kawabata, sehingga tidak semua punya gambaran tentang moleknya alam pedesaan, tabu-tabu yang nostalgis, magis, yang lebih tua dari usia lampu kota dan sudut pendingin ruangan.

Tidak semua membaca Idrus atau Iwan Simatupang, atau Chairil Anwar, sehingga tidak semua ambil pusing dengan bahasa yang selintas hanya sekedar kata-kata biasa, tersimpan tenaga yang mampu mengganggu satu kemapanan berpikir.

Tidak semua dapat menikmati puisi, sehingga tidak semua dapat menangkap sisi lain dari bahasa yang digunakan sehari-hari untuk mewakili emosi yang menerabas keterbatasan bahasa seperti ungkapan-ungkapan tentang keindahan, keagungan, kemarahan, kedukaan, kerinduan, kengerian, dst.

Tidak semua membaca Rumi, Masnawi, atau Ajahn Brahm, sehingga tidak semua mudah merasai nuansa meditatif, bahwa hidup sungguh demikian sederhana.

Tidak semua membaca Robert Cribb, “Opium and the Indonesian Revolution”, sehingga tidak semua tahu bahwa selain heroisme, negara ini juga pernah dibantu oleh ekonomi opium, candu, satu nilai yang dalam kategori moral hari ini tentu akan ditentang dengan sangat keras.

Tidak semua pernah membaca Tjamboek Berdoeri, “Indonesia dalem Api dan Bara”, reportase tahun 40’an tentang situasi sosial masa itu, sehingga tak semua tahu bila politisasi identitas yang marak beberapa tahun belakangan ini, secara genetis terwariskan dari tempurung ke tempurung.

Memang tidak semua senang dengan kisah-kisah masa lalu, sejarah, telaten dan betah menyepi menekuri teks lama berisi data-data yang tak jarang menjemukan, sehingga tidak semua tahu bahwa apa yang terjadi kerapkali hanya pengulangan belaka dari yang sudah-sudah.

Pun demikian halnya tidak semua suka dan dapat menikmati asiknya membaca komik, cerita bergambar, sehingga tidak semua bisa melihat dunia sebagaimana orang yang menyenangi komik melihat dunia berjalan seperti cerita di dalam komik.

Jadi, karena tidak semua orang punya selera yang sama, apalagi dalam soal membaca, ‘de gustibus non est disputandum’. Referensi jagad pandang itu beragam. Juga tidak melulu dari teks. Meskipun percakapan adalah juga bagian dari teks.

Lukisan, angin, tarian, semesta gunung-gunung, nyanyian, emosi, semut yang merangkak, warna, daun-daun jagung yang menguning, hujan deras dan petir yang menyambar, perang, kesedihan, perjumpaan, mimpi buruk, adalah juga teks yang bisa dibaca dengan cara-cara dan teknik tersendiri.

Dan karena tidak semua punya referensi yang sama, tidak punya sejarah membaca yang sama, tidak memiliki selera yang seratus persen sama, maka tidak semua yang diketahui mesti disama-samakan, atau dibeda-bedakan, bukan? Kenapa sesuatu semacam itu sering menjadi masalah? Perbedaan, persamaan, ada masalah dengan keduanya? Atau tempurung sosial yang sebenarnya bermasalah dengan keduanya?

Iklan