Waktu itu hujan rintik2

Billowo berteduh di bawah atap halte, dalam perjalanan ke tempat Pakdhe. Demikian pula Pakdhe, yang berselimut mantel menerabas gerimis karena ada janji bertemu Billowo.

Billowo bukan Pakdhe, dan Pakdhe tentu saja bukan Billowo. Tapi Billlowo bukanlah fiksi, ia nyata. Begitu juga dengan Pakdhe. Beliau adalah salah satu kepala suku dari anggota dewan perwakilan plumbon, yakni sebuah kos-kosan yang terletak tak jauh dari Jogja Expo Center, a.k.a JEC.

Berkebalikan dengan Billowo yang suka ngegas rem blong, ceplas-ceplos dan hobi ngaret kalau janjian, Pakdhe adalah orang modern, modern dalam arti patuh (baca: takluk) pada waktu. Beliau sangat hati-hati, penuh perhitungan, rasionil, seperti kalkulator berjalan. Saking hitungannya, anda mungkin tak percaya, tapi beliau dapat menebak dengan tepat berapa menit sebatang samsu akan terbakar habis hanya dari melihat cara orang menghisapnya. Mungkin karena di dalam jagad pandang Pakdhe, dunia adalah algoritma, dan clash of clans, sebuah game yang dapat dikatakan klasik, karena yang lain sudah pada pindah dan berkoalisi di PUBG. Tapi selain gemar main game, beliau juga demen musik. Hanya saja kalau untuk menyebut secara spesifik nama pemusik yang disukainya, di judul lagu apa, bait lirik yang mana dan pada menit keberapa nada yang paling beliau suka, saya ndak tahu. Lagipula itu soal selera. Dan selera adalah soal rasa. Personal. Kecuali selera massa.

Udah, udud dulu. Tadi cuma mau ngenalin temen baru Billowo. Orang lama sih, cuma baru dinongolin di sini. Biar ndak saya mulu yang jadi bak sampah. Apalagi bentar lagi masuk musim pildun 2019 versi Indon. Siapa tahu mereka berminat duel. Cepet2an masukin pulpen ke dalam botol pake goyang pinggang.