Yang Pentatonis

IMG_882018311144

Menyusur kelokan musik Indonesia adalah bertualang dan mampir ke rumah sasando, menyimak kisah seniman sekaligus perajin tifa di Papua, mendengar orang Sunda di Banten Kidul meniup karinding dan seruling pada malam hari, menikmati nyanyian Batak di tepi Toba, dan juga mendengar kisah demi kisah tentang bagaimana misalnya Debussy, seorang komponis yang barangkali lebih terkenal dengan lagu “Claire de Lune” (setelah musik itu menjadi pengiring di film Twilight) menonton pertunjukan gamelan Sunda yang didatangkan Belanda bersama rombongan penari Jawa selain membawa teh dari hasil kebun jajahannya yang eksotik, sebuah negeri dengan fantasi mooi indie yang salah-satunya dibentuk melalui lukisan2 Raden Saleh setelah ia menjadi pelukis kerajaan Belanda, atau sebaliknya, menelusuri perjalanan musik Indonesia adalah juga sekaligus menyimak sesuatu yang menarik tentang proses pembaratan yang tercermin melalui hobi Sultan Siak XI di akhir abad 19 dalam kunjungannya ke Eropa yang pulang2 membawa “Komet” (alat pemutar musik yang konon hanya tinggal dua di dunia) yang merekam karya2 Beethoven dan Mozart, bagaimana biografi ringkas George de Fretes, anak tentara KNIL berdarah Ambon yang belum pernah ke Hawai tapi jadi perintis gaya bermusik hawaian di Hindia Belanda, bagaimana Sukarno nginisiasi irama lenso untuk menandingi lagu ngak ngik ngok dan mengompres demam rock’n roll di kalangan anak muda jaman old, bagaimana hororisasi lagu dilakukan oleh rezim politik setiapkali mendengar “genjer-genjer”, bagaimana jejak pasar dan perjuangan para seniman musik mengendap dalam lempengan hitam, kaset pita, hingga file digital berformat flac 24 bit, dst. Rasa-rasanya, hampir tak mungkin membayangkan apa jadinya bila suatu kebudayaan eksis tanpa irama musik. Seperti sulap, yang jelas kisah2 semacam di atas akan lenyap dalam sekelebatan kain saat pesulap beraksi di atas panggung mengelabui seisi gedung.

Iklan