Mengingat Chairil, Mengingat Sastra Sepintas-lalu

IMG_20180429_114300_HHT

Sastra Sepintas-lalu adalah tema yang diangkat Budi Darma dalam tulisannya, “Milik Kita: Sastra Sepintas-lalu”, yang pertamakali terbit di Media Kompas pada tahun 1981.

24 jam yang lalu, sebagian netijen pemerhati sastra diriuhkan dengan peringatan hari kematian Chairil, 28 April. Tapi hyaitu, di tengah dominasi diskursus politik yang memperkeruh nalar, seremonial dalam jagad sastra itu (jika boleh disebut demikian) menjadi seperti layaknya tema yang pernah diusung Budi Darma 37 tahun silam: Sastra Sepintas-lalu.

Melalui esai yang tak lebih dari 2000 kata, pesastra yang menyelesaikan studi doktoralnya di Kampus Bloomington itu berakting memerankan diri sebagai seorang dokter yang mendiagnosa gejala sastra sepintas-lalu yang ngendon di publik sastra Indonesia.

Dengan sinisme yang menggelitik, ia menyambangi satu-persatu para stakeholder (wadaw!) sastra di dalam publik sastra Indonesia. Dari mulai sikap pengarang yang sepintas-lalu dan biasa terjebak pada narsisme, sikap masyarakat terhadap pengarang yang tidak memungkinkan ia tumbuh dengan baik, dunia kritik sastra yang sepintas-lalu, sikap publik sastra yang punya kecenderungan ‘mengemis’ dalam arti yang maunya cuma ingin gratisan, sampai kebiasan para peminjam buku yang enggan mengembalikan buku yang dipinjamnya, semua itu tak lepas dari sasaran diagnosanya. Sikap ini, walaupun Budi Darma tidak secara eksplisit mengatakannya, tapi saya menangkap inilah problem sastra Indonesia yang menggelisahkan Budi Darma pada tahun di mana tulisannya disampaikan ke publik sastra, yaitu tahun 1981.

Coba simak pernyataannya di bawah ini. Ada satu bagian yang sengaja saya salin karena agaknya menarik untuk ditampilkan dan siapa tahu dapat diperiksa kembali, masih relevankah apa yang pernah dikatakan oleh Budi Darma itu dengan kondisi kekinian? Tentu saja tanpa harus bersepakat dengannya.

“Sebagian sastra Indonesia adalah buruk. Banyak cerpen yang tidak lain dan tidak bukan hanya sketsa pengalaman sepintas-lalu, banyak novel yang hanya novel-novelan dan nampak dibuat sepintas-lalu. Dan banyak juga puisi yang tidak lain dan tidak bukan hanyalah potongan-potongan kalimat. Daripada mempelajari tulisan-tulisan buruk semacam ini, yang tentu saja memperbodoh mereka dan mengotori daya jangkau kemampuan estetika mereka, lebih baik mereka menjadi publik sastra luar negeri. Sekian banyak raksasa di luar negeri yang tidak bisa mereka abaikan, yang pasti akan lebih memperkaya mereka. Di luar kemampuan mereka sendiri, mereka tidak bisa menjadi publik sastra Indonesia sendiri dengan setia.”

Ada paradoks yang tampak pada bagian akhir tulisan itu. Terkait dengan standar estetik dan kesetiaan terhadap ‘sastra Indonesia sendiri’. Tapi siapa yang dimaksud dengan “mereka” dalam pernyataan tersebut? Kata Budi Darma, mereka adalah “publik sastra Indonesia yang tidak lain dan tidak bukan adalah para pekerja sastra sendiri, paling tidak mereka yang ingin menjadi pekerja sastra. Orang membaca sastra bukannya tanpa pamrih. Dia membaca karena dia ingin menjadi penulis atau kritikus. Karena kebanyakan mereka hanya melongok sastra sepintas-lalu, mereka pun menjadi publik sastra yang sepintas lalu.”

Lalu, apa hubungannya dengan Chairil? Tak terhitung berapa banyak tulisan yang bertebaran menggorifikasi jejak dan mereproduksi pengetahuan tentang kepenyairan Chairil sebagai pelopor angkatan 45. Tapi kini, masih dalam suasana seremonial itu, saya ingin sejenak mengintipnya dari lubang yang lain. Yaitu kondisi ‘bahasa kekinian’ – khususnya jenis bahasa caci-maki yang sedang populer di ruang publik digital.

Kehadiran sajak Chairil memang boleh dikata mendobrak struktur bahasa Melayu (bahasa ibu dari bahasa resmi Indonesia) yang telah dibakukan oleh ahli linguistik kolonial, Van Ophuijsen, yang mengeliminasi kata-kata dalam bahasa “Melayu liar’ (yang sebagian kecilnya diselamatkan oleh klipingan Pramoedya Ananta Toer dalam “Tempoe Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia). Diksi dan gramatika Chairil bertenaga, tidak lembek dan mendayu-dayu. Karena memang bahasa tidak dapat dicabut dari semangat zamannya. Dan pada zaman itu, adalah zaman ketika semangat revolusi menggelegak. Lalu, bagaimana dengan sekarang?

Hyaa, ndak bagaimana-bagaimana. Dinikmati saja bahasa caci-maki itu. Sebab jika kita bisa sependapat bahwa realitas bahasa adalah cermin dari kondisi psikis yang tak lepas dari semangat zaman, maka caci-maki itu tidak datang dengan sendirinya dan bukan tanpa sebab. Boleh jadi ia adalah satu-satunya kanal untuk mengungkapkan kejengkelan publik terhadap kesantunan yang menipu dan penuh basa-basi.

Iklan