Telinga

IMG_20180326_112759-01

Yang fana adalah kemampuan mendengar, karena daya dengar homo sapiens akan menurun seiring usia yang beranjak tua. Tapi nyanyian abadi.

Percaya ndak percaya, ia akan memilih sendiri pendengarnya.

Ada orang, punya nama George de Fretes. Lahir berayah seorang tentara KNIL (kalo ndak salah), di Bandung, semasa Hindia Belanda. Besar dalam kultur indies, punya darah Ambon.

Sedari muda, dia telah terinspirasi dengan So’ol Ho’opi’i dari Hawaii. Pionir pemain steel guitar yang meliuk2, legend. Trus ketularan jadi musisi (tiba2 jadi musisi? hyagitulah).

Di masa Hindia Belanda Fretes adalah musisi terkenal. Dalam hal musik boleh dikata doi saudara tua dari The Tielman Brothers yang nginspirasi The Beatles dan The Beatles nginspirasi Koes Plus (kok muter2 ya?). Eh sek, tapi tho ternyata melalui hasil forensik digital sebuah foto yang dilakukan oleh anak2 kaskus, ketauan kalo ternyata kabar itu hoax! The Beatles ndak terinspirasi dari The Tielman Brothers, melainkan dari The Lords of Rockabilly, siapa lagi kalo bukan Elvis Presley?

Kata John Lennon: “Nothing really affected me until I heard Elvis. If there hadn’t been Elvis, there would not have been The Beatles”.

Oke, itu tadi sedikit pelurusan sejarah yang dibikin bengkok oleh para perajin hoax. Balik ke Pak Fretes. Jadi intinya tadi tu ada genealogi musik yang terpotong. Dan kedudukan Fretes jaman pra-proklamasi bisa dibilang hyaa.. kayak Ariel peterpannya paska-reformasi gitulah. Lagu2nya terkenal sampe Eropa sana. Yang mulanya maenin musik2 hawai,  krontjong, atau keduanya dikombinasi.

Sewaktu jaman pendudukan Jepang, ketika musik2 berbau barat dilarang (oh, ternyata pelarangan musik berbau barat ini ndak cuma ada di jaman paduka yang mulia aja ternyata ya? atau paduka yang mulia emang terinspirasi dari Jepang? sampe bikin Koes Plus dijerujibesikan), Fretes bikin band sama kanca2 eropanya. Dijuluki “Suara Istana”. *btw, kapan hari itu penulis sempet nyaris hampir dapet kaset pitanya, tapi keduluan diembat orang. Weh

Lalu ketika jadi negara baru bernama Indonesia, doi sempat bermigrasi ke Belanda. Di sana, arsip2 karya doi berupa piringan hitam serta keterangan tahun segala macem info lengkap, diarsipin. Aku pernah liet web nya, pake bahasa Londo. Kalo ga percaya coba aja googling: George de Fretes.

Ngomong2 soal web, dan biografi Fretes, dari sekian banyak sumber informasi tentang George de Fretes yang coba iseng tak telusuri, baru sekira dua kalo ga tiga biji yang pake bahasa Indo. Artinya, baru sekitar 3 orang yang nulis di media digital. Artinya, empat deh sama ini. Jadi boleh diduga bahwa belum banyak orang yang tahu tentang sosok musisi legend ini. Artinya…

Tentu menarik kalo ada yang nulis biografi maestro yang tenggelam dikubur jaman no ini. Apalagi kalau skalian disorot konteks seni musik yang berkembang pada masa yang kebanyakan oleh para sejarawan diceritain dengan narasi berdarah2. Hyaa..semacam sejarah alternatif gitu. Biar nggak perang mulu yang diceritain.

Iklan