Billowo dalam Sejarah Anarkisme

Sebagaimana banyak dicatat dalam bukubuku kekinian, pemikiran anarkisme kerap dikaitkan dengan sosok Bakunin, Proudhon atau juga Emma Goldman. Padahal sebetulnya, di antara nama-nama itu, masih ada satu orang lagi yang tak banyak disebut-sebut: Billowo.

Kalau ndak percaya, coba simak catetan di bawah ini.

Seperti lomba panjat pinang dalam peristiwa tujuh belasan, imajinasi tentang hierarki membuat satu sama lain saling injak untuk mendapatkan sepeda. Bellum ominium contra omnes.

Dalam tesis Rene Girard, inilah awal mula terjadinya krisis. Sepeda cuma satu, yang kepengen ada sebelas orang.

Sama dengan kesebelasan parpol yang kadang sleding2an, kadang rangkul2an, demi mendapatkan kekuasaan.

Itu kenapa bagi orang seperti Emma Goldman, Bakunin, dan juga Billowo, ide tentang anarkisme menjadi satu jalan alternatif.

Tentu saja bukan untuk menghindari krisis. Justru sebaliknya, krisis sebagai bahan bakar buat nyuekin kekuasaan yang bikin satu sama lain saling injak.

Soal hierarki, antara Bakunin dengan Marx tadinya sependapat. Tapi pas giliran diajak nyuekin kekuasaan, Marx ndak mau. Billowo yang waktu itu jadi moderator, bukannya menjembatani, malah ngomporin mereka berdua.

Jadilah sejarah kemudian mencatat adu mulut di antara mereka dua.

Dan sialnya sejarah jugalah yang menjadi saksi, kalau ternyata ide-ide Marx lebih punya daya tarik ilmiah ketimbang ide Bakunin. Lhaa piye lho, selagi Marx bertaruh menukar hidupnya dengan menulis Das Kapital, Bakunin malah diajak i cangkruk terus sama Billowo.

Jadi Billowo ini sebenarnya kalau ditimbang-timbang, merupakan distraksi dalam sejarah. Seandainya Bakunin ndak diajak maen terus, bisa aja doi menulis yang sama tangguhnya dengan Das Kapital, kan?

Itulah kenapa sudah seharusnya kaum anarkis melimpahkan kesalahan pada Billowo. Gara2 satu orang itulah, sampai detik ini, anarkisme belum memiliki metode yang tepat yang dapat digunakan untuk melakukan percepatan pembangunan.

#lahh!

 

Iklan