Untitled

“​Dubur ayam yang mengeluarkan telur, lebih mulia dari mulut intelektual yang hanya menjanjikan telur,” kata Billowo suatu ketika membacakan puisi Zawawi Imron.

Mendengar itu, bertanyalah aku kepada yang bersangkutan. “Wahai kisanak (waktu itu dia sedang copot srandal mau manjat pohon), sejak kapan engkau gemar menyitir karya orang macam potong bebek begitu?”

Billowo yang dalam sekejap sudah nangkring sambil menggenggam buah jambu berkata, “Sejak isu pilkadal jadi hegemonik..” sambil menyitir lagi, kali ini dari Jokpin: “..puisi mungkin persinggahan terdekat untuk mingkem dan terbebas dari tirani cangkem”