Liyan

Bagi MUI, tidak ada warga, yang ada adalah umat. Bagi negara, tidak ada umat, yang ada adalah warga. Bagi aktivis, tidak ada warga, yang ada adalah rakyat. Bagi PDI tidak ada rakyat, yang ada adalah wong cilik. Bagi yang mau nyalon gubernur, apa ajalah yang penting nyedot suara. Tidak ada liyan. Adanya kafir. Homo. PKI. Banci. Sekuler. Cina. Ateis. Fasis. Kelas menengah ngehek. Sesat. Neolib. Amrik, dst.

Andai Bilowo jadi anggota rahasia Illuminati kayak Davinci Code, pengetahuan macam ini tentu sudah di luar kepala. Bahkan tidur pun, selain mimpiin mantan, dia bisa ngelindur nyebut tabel isu sumbu pendek.

Identitas memang menarik. Kadang romantis. Kadang nostalgis. Tapi juga sekaligus potensial untuk memanggang emosi. Membikin kenceng urat saraf. Ujungnya, ya apalagi kalau bukan nunggangi isu?

Dalam teori wacana, bahasa bisa jadi senjata pemusnah massal. Dia punya kemampuan mengendalikan struktur berpikir manusia dalam memandang realitas. Menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang ideal dan mana yang tidak. Mana manusia dan mana yang setan. Karena tak ada manusia yang bisa berpikir di luar bahasa. Semua bermula dari bahasa. Semua terkungkung di dalam bahasa.

Bahasa bahkan punya keajaiban menciptakan realitas. Meski, ya, realitas semu. Itu kenapa Nazi membantai orang Yahudi. Yang dibunuh bukan manusia, tapi Yahudi. Itu kenapa orang Indonesia membunuh saudaranya sendiri di tahun 65. Yang dibunuh itu bukan saudara, tapi komunis, bukan manusia, tapi ateis, tapi makhluk yang membayakan NKRI.

Itu kenapa manusia Jawa mengenal mantra. Puter giling. Jaran goyang. Lembu sekilan, dst. Di hadapannya, subyek yang lain ditaklukkan mantra. Melalui bahasa. Itu kenapa orang kayak Edward Said bersikeras menuduh kaum Orientalis-lah yang selama ini bertanggung jawab menciptakan “Timur”. Semua bermula dari bahasa. Memberi nama.

Lewat bahasa manusia bisa mengenal narasi surga dan neraka. Menamai ini baik dan itu buruk. Ini benar dan itu salah. Ini kafir dan itu tidak kafir. Umat dan itu bukan umat. Wong cilik dan bukan wong cilik. Rakyat dan bukan rakyat. Tapi untungnya lewat bahasa juga manusia bisa berkenalan dengan sastra – rumah bahasa yang tak dapat begitu saja dikerdilkan dalam kedangkalan oposisi biner. Hitam dan putih. Hijau dan merah. Atas dan bawah.

Poinnya? Tidak ada poin. Lhaaa ini cuma mbaca catetan from cangkem Bilowo.

Iklan