Gula, Cerita di Balik Berita

p_20160920_130406_1

Surat Kabar Kompas hari ini, Selasa 20 September 2016 menurunkan berita mengenai defisit gula di Indonesia dan perlunya melakukan impor. Berita ini membikin saya keingetan sama beberapa tulisan tentang kebun penghasil gula yang kebetulan pernah saya baca.

Sebagai gambaran. Tercatat dalam Koloniaal Verslag yang ditampilkan oleh Takashi Shiraishi (1997) dalam Zaman Bergerak, sebelum tahun 1890, keberadaan pabrik gula di daerah Surakarta memproduksi gula sampai sekitar 20.000 ton lebih. Jumlah itu terus meningkat dua kali lipat di tahun 1900 dan menjadi 74.115 ton pada tahun 1910. Itu baru daerah Surakarta, lho. Belum jika dijumlahkan hasilnya dengan daerah lain seperti di Yogyakarta, Comal, Pasuruan, Kediri, Jombang dan wilayah penghasil gula lainnya.

Hasilnya dapat ditebak. Menginjak tahun 1920, jumlah nilai ekspor gula Hindia Belanda mencapai angka 300 juta gulden. Cukup untuk membikin negara kolonial menepuk perut selama Perang Dunia. Dan Jawa pada masa itu, menjadi salah satu eksportir gula yang utama (Arthur van Schaik, dalam Seabad Industri Gula di Comal, 1996: 49) – tentu saja, setelah hutan jati yang merimbuni Jawa amblas jadi komoditi utama perdagangan VOC.

Padahal setengah abad sebelumnya, antara tahun 1860–1870, karena eksploitasi yang massif setelah Perang Jawa, Hindia Belanda mengalami chaos. Beberapa catatan menunjukkan itu. Situasi sosial tidak stabil. Kriminalitas meningkat. Para jago, kecu, robin hood tumbuh subur dan berkeliaran. Mereka menempeleng dan kadang juga membunuh administratur perkebunan yang dijabat oleh orang-orang Eropa.

Pembakaran ladang tebu pun juga marak terjadi di masa itu, sehingga ini membuat penjajah mau tak mau mesti memperkuat jumlah aparat mereka. Kekacauan yang diakibatkan oleh para jago dan kecu ini direkam dengan baik oleh Suhartono Pranoto dan dapat ditemui dalam tulisannya berjudul “Bandit-bandit Pedesaan”. Oya, sempet disinggung juga dalam cerita tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer.

Tapi poinnya bukan itu. Melainkan adalah: bila dulu pada masa negara kolonial dengan gula sebagai salah satu komoditasnya mampu membikin negeri ini sebagai pengekspor tangguh, mengapa seabad kemudian setelah berdiri negara baru di atas reruntuhan negara lama, justru membuat negeri ini defisit persediaan gulanya, sehingga yang semula ia adalah pengekspor, kini jadi pengimpor?

Kalau kenyataan historis semacam itu dijadikan pijakan bernalar logis, kesimpulannya jadi kedengaran ndak nasionalis. Tapi apa itu nasionalis? Tidakkah demikian adanya, bahwa dari cerita tentang gula yang menyatu dalam seduhan teh dan kopi yang kita minum sehari-hari saja (belum ditambah yang lain-lain lho), sistem ekonomi negeri ini lebih stabil pas dikelola kolonial daripada sekarang? *duh