Alkisah

Seorang ahli kitab yang lahir ketika Rumi sudah lanjut usia, pada pertengahan abad ketiga belas, kalau tak keliru pernah berujar;

“Jangan andalkan orang lain terlalu banyak dalam hidupmu, sebab bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu di saat gelap..”

Dialah Ibnu Taimiyah. Dengan kalimat yang tak sedikit orang mengutipnya. Terutama orang Indonesia.

Tapi zaman rupanya lekas berkata lain. Seolah hendak mengatakan bahwa apa yang diucap oleh ahli kitab itu tak selalu selamanya tepat.

Adalah Max Weber, seorang yang juga ahli kitab, terutama penguasaannya dalam kitab tentang seluk-beluk manusia. Ia menjadi tenar oleh salah satu tesisnya mengenai “etika protestan” saat mempelajari pertumbuhan kapitalisme.

Dalam studinya  ia menyatakan bahwa semangat kapitalisme terletak pada ikatan sosial yang selalu dirawat. Penyebutan ‘protestan’ itu sendiri merupakan simbol identitas yang dapat dibaca sebagai cermin dari lingkungan sosial tempat dimana ia tinggal. Yang menarik, apa yang dikemukakannya tak hanya berlaku di protestan, tapi nyaris general. Pada semua identitas.

Misalnya, kita bisa menjumpai itu bila melihat sejarah politik bangsa sendiri. Seperti dilacak oleh Takashi Shiraisi dalam disertasinya tentang jaman pergerakan. Salah satu yang ia temukan adalah, menguatnya organisasi sosial dan politik yang bermula dari strategi kaum pedagang yang bergulat dalam industri batik di Jawa. Dari sanalah, salah satu embrio pergerakan kemudian memuncak pada proklamasi Agustus 45.

Dari contoh tersebut, bila dikembalikan pada tesis semula, artinya, fondasi sosial suatu masyarakat tak terletak pada tubuh individu yang mengatasi tubuh sosial, atau bahkan kekuatan transendental – seperti dinyatakan August Comte ketika membayangkan tiga tahapan peradaban. Melainkan oleh sebuah relasi. Jalinan-jalinan.

Tentu saja, pikiran seperti itu tak akan muncul jika saja revolusi industri tidak terjadi, ketika peradaban belum digantikan mesin, dan Ibnu Taimiyah masih hidup.

Sebuah revolusi, sebuah tahap yang datang dan menggeser duduk letak matahari sebagai penanda waktu, dengan jam-jam di pusat kota.

Dengan kata lain, Weber menyatakan pandangan yang berseberangan dengan makna yang terkandung dalam kalimat dari abad ketiga belas: “Jangan andalkan orang lain terlalu banyak dalam hidupmu”, bahwa subyek tak dapat berdiri sendiri tanpa kehadiran liyan.

Kelangsungan subyek sangat ditentukan oleh keberadaan ‘yang lain’ di luar dirinya. Sebaliknya, subyek justru akan semakin bertambah kuat ketika bertemu dengan liyan yang memiliki kesamaan nilai sosial. Terutama dalam hal ‘keyakinan’.

Agaknya, soal keyakinan itulah yang membuat gatal dan coba dipenggal oleh sesama ahli kitab bernama Friedrich Nietzsche, dengan membuat pernyataan bak meletakkan filsafat modern di atas guillotine tua dengan kalimat: “tuhan sudah mati, kitalah yang membunuhnya”

Di zamannya, tak ada yang lebih mencemaskan ketimbang kalimat semacam itu. Ketika tradisi berpikir filsafat modern terpaku menilai manusia sebagai pusat sekaligus obyek dari segala sesuatu di alam semesta.

Saya kemudian jadi membayangkan, percakapan macam apa kiranya jika tiga ahli kitab itu, Taimiyah, Weber dan Nietzsche sempat bertemu, ngobrol, apalagi berkawan.

Tapi saya lebih penasaran untuk membayangkan, orang seperti apa yang mampu mendengar isi obrolan mereka bertiga sampai selesai, tanpa tubuhnya terbakar lebih dulu.

Iklan