Arabasta

Beberapa minggu terakhir, di tengah beragam wacana di media sosial yang gampang menjadi viral dan datang silih-berganti tak pernah tuntas, saya diracuni film One Piece oleh seorang kawan. Sialnya, dia berhasil membuat saya ketagihan menonton film yang berkisah tentang petualangan bajak laut itu.

Waktu menikmati sampai Arabasta, pikiran saya seketika tersambung pada wacana perdagangan karbon yang beberapa dasawarsa belakangan marak jadi rerasan di berbagai mimbar yang mengusung semangat lingkungan di banyak negara.

Semua bermula dari “serbuk tarian hujan”. Sebuah senyawa kimia ilegal yang diproduksi untuk menciptakan hujan buatan dan dimanfaatkan oleh lawan-lawan politik sebagai senjata untuk memukul mundur pengaruh Raja Arabasta dan mengambil hati rakyat.

Kalau ada yang pernah menonton episode satu ini, bolehlah coba mengingat kembali siapa saja aktor yang diperkenalkan dalam peperangan di Arabasta. Ada Luffy bersama geng-nya, angkatan laut yang nasionalis, Raja Arabasta dan anaknya, rakyat yang memberontak, dan Shichibukai – julukan untuk bajak laut Crocodile yang bekerjasama dengan negara-dunia untuk melakukan berbagai jenis pekerjaan kotor.

Sebagai bajak laut anteknya negara global, Crocodile punya tim bernama Baroque Works dengan ribuan pasukan yang struktur keorganisasiannya hierarkis dan menyerupai militer.

Dalam film itu dikisahkan bahwa Crocodile sedang merencanakan kudeta terhadap raja. Pertama-tama strategi yang dilakukannya adalah dengan memainkan serbuk pembuat hujan yang sebelumnya telah disepakati oleh negara-dunia bahwa barang itu dilarang penggunaannya karena bisa berakibat pada perubahan cuaca ekstrim yang berlangsung di negara-negara lain. Cara kerja serbuk ini adalah mengkarbit ketersediaan awan di langit dan kemudian membuatnya menjadi hujan.

Meskipun tidak sama-sama persis, namun logika yang termuat dalam cerita Arabasta itu agaknya punya kesamaan dengan wacana perubahan iklim dan histeria enviromentalisme global yang baru terjadi beberapa dasawarsa belakangan.

Salah satu wacana hegemonik seputar ekologi yang dihadapi saat ini adalah familiarisasi istilah perubahan iklim yang kemudian dihubungkan dengan “perdagangan karbon” dan menempatkan negara seperti Indonesia secara tidak langsung sebagai “kambing hitam”, lantaran posisinya yang vital disebabkan oleh masih tersedianya hutan tropis.

Semua itu bermula dari kerusakan alam yang berada di depan mata, di mana setiap tahun daratan yang dihuni oleh beberapa negara maju mengalami peningkatan permukaan air laut, ketidakmenentuan siklus perubahan cuaca di tempat-tempat lain, membuat negara yang telah lebih dulu melahap hutannya sendiri kemudian perlu menyusun strategi agar tak semakin tenggelam. Salah satunya dengan mengarahkan anggaran tanpa batas ke negara-negara seperti Indonesia untuk membangun wacana tentang pentingnya menjaga habitat alam di wilayah yang masih memiliki luas hutan lumayan, dan menandai wilayah tersebut sebagai paru-paru dunia.

Dalam hal ini terdapat sebuah pembayangan antroposentris di mana dunia diandaikan seperti tubuh, dan pengistilahan Indonesia sebagai paru-paru dunia sekaligus menyiratkan pesan tentang besarnya harapan yang disandarkan pada pundak negara berhutan luas untuk meminimalisir efek rumah kaca yang telah diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Inilah yang pertama dijalankan: membuat desain “kesadaran kolektif” supaya masyarakat meyakini bahwa negara dengan ketersediaan hutan yang luas harus menerima posisi yang dilekatkan pada dirinya sebagai paru-paru di antara negara-bangsa.

“Kesadaran kolektif” tersebut tentu saja menurut standar negara-bangsa, yaitu rasionalitas kekinian yang diterjemahkan ke dalam berbagai praktik kebijakan, studi lintas displin yang meliputi forestry, biologi, ekonomi, kedokteran, sejarah, geografi, antropologi dan seluruh cabang keilmuan sejauh itu mendukung semangat “kembali ke alam”.

Rasa-rasanya inilah kolonialisme dalam wujudnya yang paling canggih sehingga tidak mudah dipetakan. Terlebih di tengah kompleksitas ambivalen tentang maraknya ekspansi kapital yang semakin membabi-buta menjamah wilayah pinggiran secara gila-gilaan.

Tujuan dari kehendak untuk mengubah manusia Indonesia menjadi lebih sadar terhadap alam lingkungannya tentu saja adalah suatu kebaikan, sejauh pertimbangan itu didasarkan pada asas “kebaikan bersama” dan keberlangsungan hidup generasi-generasi mendatang.

Namun sepertinya agenda global tidak semata lahir dari dua aspek itu saja, melainkan juga dilandasi oleh superioritas purba yang menganggap manusia di luar dirinya masih tertinggal sehingga perlu “didiagnosa”, “didefinisikan”, “disadarkan”, “diubah” – atau dengan kata lain, menganggap manusia di negara dengan luas hutan seperti Indonesia tak punya pengetahuan dalam hal menjaga kelestarian alam, kecuali untuk merusaknya.

Dalam praktiknya, hal itu dapat ditemukan pada pembikinan aturan perlindungan alam seperti pembedaan wilayah hutan tanaman industri, hutan adat, hutan milik negara, konservasi, dalam frame teritorialisasi dan zonasi-zonasi ruang yang dimaksudkan untuk dapat terus mengeksploitasi sumber ekstraktif sekaligus pada saat bersamaan melindungi habitat alam, tumbuhan, hewan yang ujungnya sudah dapat ditebak: alienasi keberadaan manusia dan genosida budaya.

Tapi mari tinggalkan perbincangan yang bikin hipertensi itu dan kembali ke One Piece. Di Arabasta, kekacauan sosial sebagaimana yang dikehendaki oleh Crocodile berlangsung dengan cara merusak saluran irigasi di negara padang pasir yang menjadi tumpuan hidup. Setelah irigasi rusak, tak ada lagi persediaan air yang dapat diandalkan. Secara sosiologis interaksi sosial menjadi terhambat. Dari situ kemudian kelompok Crocodile diam-diam menyusun rencana untuk membuat hujan buatan tetapi hanya di lingkungan istana saja dengan memanfaatkan bahan kimia ilegal.

Suatu kali, sekumpulan orang suruhan yang sedang mengantar serbuk ilegal itu sengaja menumpahkan barang tersebut di pusat keramaian, sehingga membuat rakyat Arabasta terkejut. Mereka menyadari satu hal bahwa ternyata raja selama ini telah melakukan hal kotor dengan mendatangkan hujan hanya dilingkungan istana, padahal di daerah-daerah rakyat sengsara karena kekeringan telah menimpa mereka selama bertahun-tahun.

Di tengah kegeraman itu, Crocodile mengambil-alih tugas kerajaan dalam mengamankan wilayahnya. Sebagai misal setiap kali ada bajak laut datang dan membuat onar maka Crocodile selalu menyelesaikan masalah itu sebelum bala-tentara kerajaan tiba. Dengan kejadian yang terus-menerus berulang seperti itu, simpati rakyat kemudian berpaling. Mereka kesal, marah kepada raja yang tidak bisa melakukan apa-apa, dan pada saat bersamaan sekaligus kagum dengan aksi Crocodile yang kehadirannya memenuhi ruang kosong imajinasi mereka akan sosok pahlawan.

Situasi itu tentu saja memuluskan rencana Crocodile untuk menggulingkan kekuasaan dengan mengorganisir pemberontakan terhadap raja, memobilisasi kemarahan di daerah, sampai-sampai Crocodile bahkan tak perlu turun langsung karena rakyat telah bergerak sendiri, seperti mengusahakan ketersediaan senjata dan membangun konsolidasi.

Dalam peliknya situasi itulah Luffy and the gangs yang di setiap aksinya melakukan dekonstruksi terhadap sistem nilai bajak laut hadir dan berjuang menyelamatkan Arabasta, saat sebagian besar rakyat telah tertipu heroisme Crocodile dan sedang merancang sebuah pemberontakan yang sebetulnya berada dalam satu desain besar kudeta senyap.

Iklan