Debu

Clifford Geertz, dalam salah satu karyanya Tafsir Kebudayaan mengatakan, “Hanya penyair yang dapat melihat dunia dari sebutir debu”.

Mungkin itu tak sekedar kiasan.

Dalam suatu masa sejarah pernah mencatat, ada gerakan pemahaman mendasar yang popularitasnya tak kalah dengan lagu dangdut. Kehadiran pemahaman itu menyihir banyak pemikir karena menjanjikan kebaruan. Suatu kebaruan dalam menatap dunia dan segala isinya, tak terkecuali dirinya sendiri.

Di tangan seorang tukang kayu, pemahaman itu mendapat julukan fenomenologi. Ia merupakan landasan berpikir yang kemunculannya menggetarkan epistemologi dunia sains sekitaran abad 19. Idenya berangkat dari pemahaman sederhana, bahkan mungkin akan sedikit terdengar mendekati arah pemikiran Buddhisme. Fenomenologi membiarkan “ada” tampil sebagaimana “adanya”, hingga yang “ada” hadir dan menyingkapkan diri di hadapan benda-benda semesta – tanpa prasangka, intervensi nilai-nilai saintifik dan sebagainya. Pemahaman itu membiarkan mekarnya mawar bukan sebagai obyek, melainkan subyek bagi dirinya sendiri yang mengatasi kehadiran liyan. Di sinilah Heidegger, si tukang kayu itu, membasuh dominasi sains dalam melihat benda-benda yang selalu dikotori prasangka, hipotesis dan lain sebagainya.

Bagi Geertz yang mencoba bersajak, mungkin juga debu bisa berarti metafora. Ia bertutur tentang gerak yang acak serentak dan tak bisa dipastikan. Sebentuk revolusi dalam pemahaman yang telah mengakar selama ratusan tahun semenjak Copernicus dan digebrak analisa imajiner Einstein ketika menelesuri jejak energi yang menggerakkan eter: energi berbanding lurus dengan massa dikalikan kuadrat kecepatan cahaya.

Debu adalah riwayat benda-benda yang meringkuk dalam tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu, serta dua dimensi lain yang tak kentara dalam jangkaun indera manusia.

“Dengan sebutir debu, energi memiliki daya yang dapat menyalakan lampu di seluruh kota,” kata Einstein suatu kali ketika sedang mempresentasikan temuannya di depan orang-orang berduit yang akan membiayai risetnya.

Tapi cerita tak berhenti di situ, yang membuatnya gelisah di kemudian hari justru adalah akibat dari gebrakan yang ia lakukan – bahwa sebutir debu juga punya kekuatan yang menghancurkan kehidupan dan keseimbangan semesta.